Jumat, 30 Desember 2016

POWY ADVENTURE Blusukan Wisata Di Jurang Pulosari Pajangan Bantul

Bisa dikatakan Jurang Pulosari adalah contoh dari sebuah tempat terselinap yang lantas
ramai dikunjungi akibat media sosial. Karena ‘kemurahan hati’ para pengunggah foto di instagram, facebook, twitter dan sebagainya, tempat yang awalnya hanya sebagai kolam mandi warga setempat pun bisa dikunjungi oleh khalayak ramai. Bingkai wisata di sana akhirnya bergeliat yang kemudian kelompok masyarakat desa mengelolanya sebagai pariwisata desa.
Saya berkunjung pada sebuah hari cerah ke Jurang Pulosari yang terletak di ujung dusun Krebet, Desa Sendangsari, Kec. Pajangan, Bantul. Sesungguhnya daerah Krebet telah dikenal luas sebagai sentra kerajinan kayu dan batik di Yogyakarta. Keberadaan jurang yang dialiri air sehingga pantas disebut air terjun ini melengkapi khasanah alam dari kampung yang telah ditahbiskan sebagai desa wisata Krebet.
Jika menginginkan ketinggian, air terjun yang mengucur setinggi 5 meter ini bukanlah pelampiasannya. Namun, jika mendamba kesegaran, saya rasa tempat ini sanggup memenuhi kebutuhan tersebut. Air jatuh pada tebing yang berongga sebagai sebuah tirai stalagtit lantas menimpa kolam hijau menyegarkan. Dikelilingi asrinya alam yang masih terjaga membuat sepenggal waktu di Jurang Pulosari sangat bermakna untuk relaksasi kehidupan.
“Dalam sehari yang datang kesini tidak bisa berhenti. Tidak hari libur atau hari biasa. Ada saja yang datang, dari jam 6 pagi hingga jelang maghrib.” ungkap ibu penjual air legen.
Keramaian Jurang Pulosari adalah berkah bagi ibu yang tak mau diminta namanya ini. Pada terik siang yang terus digelontorkan pengunjung bertebaran, saya pun lebih menikmati Jurang Pulosari dengan kesegaran segelas legen yang dihargai Rp 2.500. Begitu murah meriah. Saya pikir, sepatutnya sebuah daerah ‘mblushuk’ yang jadi ramai gegara medsos ini punya hak untuk membuat kegiatan ekonomi warganya berkembang.
Coba setiap pengunjung datang ke lokasi tak sekedar asyik hanya menjepret dirinya dan momen selfie bersama kawannya lalu menggunggah ke media sosial untuk lantas dikomentar kawannya lain. “Wow keren, dimana itu? Aku mau kesana ah” Coba juga setiap pengunjung turut membelanjakan receh uangnya untuk membeli jajan minuman dan makanan di lapak-lapak warga di Jurang Pulosari. Tidakkah itu bagus? Bagus bisa berbagi kebahagiaan dan mengkonversinya jadi pendapatan bagi warga setempat.
Namun, saya lihat nyatanya banyak pengunjung telah membawa tas kresek beserta isinya berlabel dari salah satu waralaba minimarket. Pasti mereka telah membawa bekal untuk dinikmati di Jurang Pulosari. Anggap mereka mungkin tak perlu lagi jajan di lokasi wisata karena sudah ada bekal dari rumah, eh dari toko lebih tepatnya. Ketika telah habis bekalnya, tak sedikit yang sampahnya yang dibuang sembarangan.
Oh.. Ya beginilah kadang yang membuat saya sedih. Datang ke lokasi bagus dimana telah banyak warga mencari rejeki dari geliat wisata, namun masih banyak pengunjung yang ‘pelit’ mengalirkan uangnya. Datang karena lihat dari media sosial lalu sebagai bukti eksistensi, mereka dengan ekspresifnya berselfie dan kemudian diupload di akun pribadinya di media sosial. Setelah itu, ya sudah. Semacam tak perlu ‘berinteraksi’ dengan warga yang mencari peruntungan dari makin dikenalnya ‘tempat wisata’ ini. Di situ, kadang saya merasa sedih…
Catatan:
- Jurang Pulosari bisa diakses dari Yogyakarta dan Bantul dengan terlebih dulu menuju Kampung Krebet, Sendangsari, Kec. Pajangan. Jalan sudah aspal. Kemudian di Krebet sudah tersedia papan petunjuk Jurang Pulosari.
- Lokasi Jurang Pulosari bisa dicari pada titik koordinat GPS -> -7.860925, 110.287192

Dokumentasi Foto : Harjono

Selasa, 27 Desember 2016

Ada Yang Baru Di Kab.Kulonprogo Curug Gandu Namanya | Di Kutip Oleh Harjono

wooww..ada yang baru di kabupaten kulonprogo ..namanya curug gandu , curug ini terletak di daerah kaliduren ,jarakan , Kebonharjo ,Samigaluh , Kulonprogo , Yogyakarta..
Tepatnya Perbatasan dengan Jogja-Jawa Tengah..

Jangan Lupa Untuk Di Kunjungi ..
Dikutip oleh : Harjono
S : Yunita

Minggu, 25 Desember 2016

Bukit Pethu Waduk Sermo Spot Terbaru & Trend Di Kab. Kulonprogo

– Waduk Sermo, danau buatan yang diresmikan pada tahun 1996 ini mamang memiliki peotensi wisata yang besar.
Luasnya yang mencapai 157 hektar dengan hijaunya perbukitan Menoreh yang mengelilinginya menghasilkan pemandangan yang begitu menawan.
Dengan potensi yang dimilikinya tersebut, saat ini masyarakat sekitar waduk Sermo mulai menggarap sektor pariwisata secara lebih serius. Hal ini terlihat dari mulai bermunculannya obyek wisata baru di sekitar waduk.
Salah satu obyek wisata baru yang bisa wisatawan kunjungi di waduk Sermo adalah Bukit Pethu.
Obyek wisata ini berada persis di tepi waduk Sermo dan masuk ke dalam wilayah Dusun Tegalrejo, Desa Hargowilis, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon Progo.
Obyek wisata yang memiliki nama resmi Pesona Bukit Pethu Waduk Sermo ini memilik dua buah gardu pandang menghadap langsung waduk sebagai ikonnya.
Adalah para pemuda anggota karang taruna dusun Tegalrejo yang pertama kali memiliki inisiatif membangun obyek wisata ini.
“Dalam membangun ini semua, kami memang terinspirasi dari wisata Kalibiru,” ujar Heri Antana, salah satu pengelola obyek wisata Bukit Pethu.
Lebih lanjut Hari menjelaskan, dia bersama anggota karang taruna lainnya ingin menghadirkan tempat wisata dimana para wisatawan bisa menikmati waduk Sermo dari dekat.
Layaknya di Kalibiru, wisatawan bisa memanfaatkan dua buah gardu pandang yang masing-masing memiliki tinggi kurang lebih 2,5 meter sebagai lokasi foto-foto dengan latar belakang waduk Sermo dan hijaunya perbukitan Menoreh.
Demi keamanan pengunjung di masing-masing gardu pandang terdapat alat pengaman, sehingga wisatawan tidak perlu was-was saat berada di atas.
Demi kenyamanan para pengunjung, pihak pengelola juga menyediakan beberapa gazebo kecil yang bisa digunakan untuk bersantai para wisatawan. Selain itu, beberapa penjual makanan dan minuman juga hadir di tempat wisata ini.
Setiap harinya Bukit Pethu ini bisa dikunjungi wisatawan dari jam 08.00 pagi hingga 17.00. Meski baru beroperasi sejak Juni 2016 ini, jumlah kunjungan tempat ini cukup lumayan, yakni 100 orang per hari.
Anda tidak perlu bingung untuk mencapai Bukit Pethu, karena lokasinya mudah ditemukan.
Dengan mengelilingi jalan lingkar Waduk Sermo dan mengikuti papan petunjuk yang disiapkan pengelola anda akan dengan mudah menemukannya.

Sumber Foto : Harjono

Jumat, 23 Desember 2016

Gardu Pandang Watu Lumbung Kretek Bantul

Dikutip Oleh : Harjono
Gardu Pandang watu lumbung menyimpan spot pariwisata yang hijau di perbukitan parangtritis .Tempat ini juga menyediakan kedai wedangan di area watu lumbung..
anda bisa melihat jembatan parangtritis dari ketinggian 300meter dari perbukitan watu lumbung ..
Area wisata Watu lumbung ada di Timur Jembatan gantung parangtritis kurang lebih 500meter..
untuk menuju kesana dari jembtan parangtritis ketimur 200meter ada pertigaan kanan jalan lurus naik keselatan..
Fotografer : Aji Rachmat
Salam Powy
Salam Piknik

Kamis, 22 Desember 2016

Jurang Pulosari Air Terjun Musiman Di Pajangan Bantul

Bisa dikatakan Jurang Pulosari adalah contoh dari sebuah tempat terselinap yang lantas
ramai dikunjungi akibat media sosial. Karena ‘kemurahan hati’ para pengunggah foto di instagram, facebook, twitter dan sebagainya, tempat yang awalnya hanya sebagai kolam mandi warga setempat pun bisa dikunjungi oleh khalayak ramai. Bingkai wisata di sana akhirnya bergeliat yang kemudian kelompok masyarakat desa mengelolanya sebagai pariwisata desa.
Saya berkunjung pada sebuah hari cerah ke Jurang Pulosari yang terletak di ujung dusun Krebet, Desa Sendangsari, Kec. Pajangan, Bantul. Sesungguhnya daerah Krebet telah dikenal luas sebagai sentra kerajinan kayu dan batik di Yogyakarta. Keberadaan jurang yang dialiri air sehingga pantas disebut air terjun ini melengkapi khasanah alam dari kampung yang telah ditahbiskan sebagai desa wisata Krebet.
Jika menginginkan ketinggian, air terjun yang mengucur setinggi 5 meter ini bukanlah pelampiasannya. Namun, jika mendamba kesegaran, saya rasa tempat ini sanggup memenuhi kebutuhan tersebut. Air jatuh pada tebing yang berongga sebagai sebuah tirai stalagtit lantas menimpa kolam hijau menyegarkan. Dikelilingi asrinya alam yang masih terjaga membuat sepenggal waktu di Jurang Pulosari sangat bermakna untuk relaksasi kehidupan.
“Dalam sehari yang datang kesini tidak bisa berhenti. Tidak hari libur atau hari biasa. Ada saja yang datang, dari jam 6 pagi hingga jelang maghrib.” ungkap ibu penjual air legen.
Keramaian Jurang Pulosari adalah berkah bagi ibu yang tak mau diminta namanya ini. Pada terik siang yang terus digelontorkan pengunjung bertebaran, saya pun lebih menikmati Jurang Pulosari dengan kesegaran segelas legen yang dihargai Rp 2.500. Begitu murah meriah. Saya pikir, sepatutnya sebuah daerah ‘mblushuk’ yang jadi ramai gegara medsos ini punya hak untuk membuat kegiatan ekonomi warganya berkembang.
Coba setiap pengunjung datang ke lokasi tak sekedar asyik hanya menjepret dirinya dan momen selfie bersama kawannya lalu menggunggah ke media sosial untuk lantas dikomentar kawannya lain. “Wow keren, dimana itu? Aku mau kesana ah” Coba juga setiap pengunjung turut membelanjakan receh uangnya untuk membeli jajan minuman dan makanan di lapak-lapak warga di Jurang Pulosari. Tidakkah itu bagus? Bagus bisa berbagi kebahagiaan dan mengkonversinya jadi pendapatan bagi warga setempat.
Namun, saya lihat nyatanya banyak pengunjung telah membawa tas kresek beserta isinya berlabel dari salah satu waralaba minimarket. Pasti mereka telah membawa bekal untuk dinikmati di Jurang Pulosari. Anggap mereka mungkin tak perlu lagi jajan di lokasi wisata karena sudah ada bekal dari rumah, eh dari toko lebih tepatnya. Ketika telah habis bekalnya, tak sedikit yang sampahnya yang dibuang sembarangan.
Oh.. Ya beginilah kadang yang membuat saya sedih. Datang ke lokasi bagus dimana telah banyak warga mencari rejeki dari geliat wisata, namun masih banyak pengunjung yang ‘pelit’ mengalirkan uangnya. Datang karena lihat dari media sosial lalu sebagai bukti eksistensi, mereka dengan ekspresifnya berselfie dan kemudian diupload di akun pribadinya di media sosial. Setelah itu, ya sudah. Semacam tak perlu ‘berinteraksi’ dengan warga yang mencari peruntungan dari makin dikenalnya ‘tempat wisata’ ini. Di situ, kadang saya merasa sedih…
Catatan:
- Jurang Pulosari bisa diakses dari Yogyakarta dan Bantul dengan terlebih dulu menuju Kampung Krebet, Sendangsari, Kec. Pajangan. Jalan sudah aspal. Kemudian di Krebet sudah tersedia papan petunjuk Jurang Pulosari.
- Lokasi Jurang Pulosari bisa dicari pada titik koordinat GPS -> -7.860925, 110.287192

Curug Lepo , Curug Yang Masih Alami Di Dalam Pedesaan Pokoh Dlingo Bantul

Semua anak senang main air jadi tidak ada salahnya orangtua menyenangkan anak dengan mengajak mereka berwisata ke tempat dengan air yang berlimpah seperti Curug Lepo. Lepo merupakan singkatan dari Ledok Pokoh karena memang air terjun ini berada di desa Ledok Pokoh yang merupakan bagian dari wilayah Dlingo, Bantul, Jogja. Banyak hal yang bisa Anda bagi bersama anak Anda ketika berkunjung ke air terjun ini.
Suasana Pedesaan
Curug Lepo berada di area pedesaan dan tak jauh dari perkampungan warga. Suasana pedesaan yang nyaman dan asri bisa langsung Anda rasakan begitu memasuki area dusun Ledok Pokoh. Penduduk yang ramah dan tak sungkan berbalas sapa bisa mengajarkan anak untuk senantiasa menyapa dan ramah pada orang lain.
Teduh Pepohonan
Setelah menitipkan kendaraan di area parkir yang dikelola warga setempat, Anda bisa melanjutkan perjalanan menyusuri jalan setapak sederhana yang sudah disemen menuju air terjun. Anda tak perlu khawatir Anda dan anak Anda akan bosan selama berjalan kaki menuju lokasi air terjun karena pepohonan yang rapat dan rindang mampu memberi keteduhan tidak hanya selama perjalanan menuju air terjun melainkan juga ketika berada di air terjun.
Empat Kolam, Tiga Air Terjun
Sesampainya di area air terjun, Anda akan disambut dengan empat buah kolam dengan air berwarna kehijauan yang membuat Anda dan anak-anak tak sabar untuk segera menceburkan diri dan bermain air di dalamnya. Keempat kolam tersebut tidak berukuran besar, tetapi terlihat cantik karena bertingkat dengan dihubungkan oleh tiga air terjun rendah. Kolam-kolam yang dinaungi oleh teduh pepohonan membuat Anda betah bermain air bersama anak-anak di Curug Lepo.
Kolam pertama yang paling luas mempunyai kedalaman dua meter dan biasanya dijadikan area berenang oleh remaja dan orang dewasa. Anak-anak disarankan berenang di kolam kedua dengan tebing batu eksotis dan kolam keempat yang merupakan kolam paling dangkal. Kolam keempat mempunyai kedalaman yang hampir sama dengan kolam pertama meskipun ukurannya jauh lebih kecil.
Fasilitas
Meskipun dikelola oleh warga setempat, Curug Lepo sudah memiliki fasilitas yang cukup memadai termasuk jalan setapak dan tangga batu yang sudah tersusun rapi sehingga memudahkan pengunjung termasuk pengunjung anak-anak untuk menjelajah area air terjun dengan lebih mudah dan aman. Selain itu, ada pula fasilitas toilet dan beberapa warung penjaja makanan. Anda juga bisa menemukan persewaan pelampung jika Anda tidak mempunyai kemampuan berenang, tetapi ingin merasakan nikmatnya bermain air di tengah kolam alami.
Membayar Seikhlasnya
Satu hal menarik yang bisa Anda temukan di Curug Lepo adalah biaya masuk area air terjun yang bisa disesuaikan dengan keikhlasan pengunjung. Pengelola tak mematok harga tertentu sebagai biaya masuk area air terjun. Anak-anak bisa belajar keikhlasan ketika berkunjung ke tempat wisata anak ini.
Rute
• Imogiri-Hutan Pinus Mangunan-Perempatan Terong (kanan)-Pertigaan arah Playen (lurus)-cari dusun Pokoh hingga menemukan plang tulisan Curug Lepo.
• Patuk (dari Bukit Bintang)-Perempatan GCD FM (kanan)-Pandeyan-Perempatan Terong (kiri)-cari dusun Pokoh.
Tips
• Jangan lupa membawa pakaian ganti dan handuk.
• Sebaiknya berkunjung ke Curug Lepo ketika musim penghujan tiba jika ingin puas main air. Debit air di air terjun dan kolam lebih banyak saat musim penghujan.

Sumber Foto : Pakdhe Prenggo
Di Poskan oleh : Harjono

Jurang Tembelan Dlingo Spot Bagus Berburu Sunset Dan Panorama Pegunungan

Lokasi Jurang Tembelan Dlingo - kawasan Mangunan memang memiliki banyak spot bagus untuk berburu sunset dan panorama pegunungan. Setelah terkenal sebagai negeri di atas awan, gardu pandang Mangungan yang terletak di komplek Kebun buah Mangunan memang menjadi buruan wisatawan baik lokal maupun internasional untuk berburu sunrise dan juga kabut di pagi hari. Di daerah mangunan memang tak hanya Gardu pandang Mangunan saja yang terkenal, ada lagi lainnya yaitu Bukit Panguk Kediwung, Bukit Mojo, dan yang terbaru adalah Jurang Tembelan. Nama terakhir adalah spot wisata baru di dekat mangunan yang mengadopsi konsep seperti Bukit Panguk. Jurang Tembelan masih tergolong sepi karena belum lama dikembangkan, namun akhir akhir ini menjadi hits di sosial media karena gardu pandangnya yang unik dan pemandangan yang tak kalah bagusnya jika dibanding dengan bukit Panguk atau Mangunan.
View pemandangan di Jurang Tembelan (foto IG : @gunawanwicaksana28)
Lokasi Jurang Tembelan
Lokasi spot baru untuk menikmati pesona sunrise atau negeri di atas awan dengan kabut pagi hari ini berada tak jauh dari Kebun Buah Mangunan. Tepatnya berada di sebelah timur. Lokasi Jurang Tembelan ini di sebelah bawah area masuk Gardu Pandang Mangunan. Dari jalan sudah kelihatan plang penunjuk ke Jurang Tembelan jadi mempermudah bagi wisatawan yang sedang mencari tempat wisata baru ini.
Foto : Darmasto Randika
Dikutip oleh : [ Harjono ]