Jumat, 02 Desember 2016

Taman Belanda Dam Kamijoro Menjadi Wisata Terbaru Di Kab . BANTUL | Dok. POWY.COM

)-- Keberadaan Dam (pintu air) Kamijoro di Desa Sendangsari, Kecamatan Pajangan kini menjadi destinasi wisata baru di Bantul. Sejak direnovasi oleh pemerintah setempat, tempat bersejarah ini mempunyai daya tarik bagi wisatawan lokal maupun luar daerah untuk singgah dan menikmati keindahan pemandangan di kawasan Sungai Progo.
Dam yang dibangun pada masa pemerintah Hindia Belanda sekitar tahun 1924 ini berfungsi sebagai pintu air untuk mengairi jaringan irigasi di 3 kecamatan meliputi Pandak, Srandakan dan Sanden. Hingga saat ini pintu air ini masih berfungsi dan menjadi tumpuan para petani di tiga wilayah tersebut.
“Dam Kamijoro masuk dalam bangunan purbakala karena bangunan itu memang bersejarah dibangun pada zaman Belanda dan diresmikan oleh Sultan HB VIII,” ungkap Kasi Sejarah Purbakala Dinas Kebudayan dan Pariwisata Kabupaten Bantul, Jaka purnama, Minggu (04/09/2016).
Dijelaskan, pada bangunan dam tersebut juga terdapat bekas mesin pompa kuno yang berfungsi sebagai penyedot pasir pada bak kontrol. Namun karena keterbatasan teknologi, mesin tersebut sudah tidak difungsikan dan digantikan dengan mesin pompa air biasa.
Selesai direnovasi sekitar satu bulan yang lalu, tempat ini banyak dikunjungi oleh wisatawan yang ingin berfoto dengan lagar belakang pemandangan Sungai Progo. Warga setempat bahkan juga menamai taman yang berada di Dam Kamijoro ini sebagai Taman Belanda.
“Kalau sore hari banyak yang datang, ingin berfoto selfie atau hanya melihat pemandangan. Sekarang warga menyebut tempat itu sebagai Taman Belanda, mungkin karena disitu ada taman dan tempat itu juga peningggalan Belanda,” pungkas jaka.

Ikutilah Gerakan Relawan Merapi Hijau Ke - 4 | Minggu 4 Desember 2016 | Dok. POWY.COM

Budi Susilo
Dalam rangka Bulan Menanam Nasional dan Hari Menanam Indonesia 2016 yang dicanangkan oleh Bapak Presiden Joko Widodo di Tuban Jawa Timur beberapa hari yang lalu serta dalam rangka Hari Disabilitas Internasional 2016, Insya Alloh besuk pagi beberapa siswa dan guru SLB-B YPPALB Mgl akan berpartisipasi dalam Kegiatan Penanaman 5000 Pohon (Gerakan Merapi Hijau) di Blok Bedengan Jurangjero Merapi Magelang yang diadakan oleh FMMH (Forum Merapi Merbabu Hijau).
SF : Jatmiko Merbabu

Puncak Watu Payung , Spot Wisata Trend Di Gunungkidul | Dok. POWY.COM

Gunungkidul mempunyai jajaran wisata yang luar biasa dari mulai pantai yang sangat indah, wisata goa, dan wisata pegunungan. Seperti yang satu ini puncak Watu payung atau batu yang menyerupai payung di Semin Gunungkidul, Peta /rute/jalan menuju puncak watu payung semin gunungkidul yogyakarta ini tidak terlalu sulit karena hanya berdekatan dengan Telaga Biru yang lagi buming di media sosial karena ke eksotisnya, puncak Watu payung
Semin ini terletak di perbatasan kabupaten Gunungkidul dengan kabupaten Sukoharjo yang tepatnya berada di dusun Ngentak, desa Candirejo, kecamatan Semin, kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta.
Terletak 70km dari pusat kota Yogyakarta dan dapat di tempuh 1jam 30menit dari kota Yogyakarta ini mempunyai tiga rute yang paling efektif untuk sampai di Watu payung (batu payung) kunci paling utama adalah kecamatan Semin untuk menuju Watu payung, Peta /rute/jalan menuju puncak watu payung semin gunungkidul yogyakarta adalah sebagai berikut,
Rute pertama, Yogyakarta > jl.Jogja-Solo > (ambil ke selatan arah wedi) > Pasar wedi > kecamatan Bayat > jl. Bayat cawas > jl. Weru -cawas > SMPN 2 weru > Candirejo Semin > Ngentak > Watu payung
Rute kedua, Yogyakarta > ringroad jl. Wonosari > Piyungan > Patuk > pertigaan sambil Pitu (ambil arah kiri menuju Nglipar) > jl.nglipar-ngawen > jl.Ngawen > jl.Semin-cawas > jl.Semin-watu kelir > Watu payung
Rute ketiga, Yogyakarta > ringroad jl.Wonosari > Piyungan > Patuk > Gading (lapangan terbang ) > Siono > kota Wonosari > Selang > Karangmojo (ambil kiri arah Semin ) > Pasar Semin (ke Utara) jl. Semin Watu kelir > Watu payung.
Titik koordinat GPS Puncak Watu payung Semin (batu payung) sebagai berikut -7.816660,110.768458
S : www.gunungkidulku.com

Seribu Batu Wisata Songgo Langit , Wisata Trend Saat Ini Di Kab. BANTUL | Dok. POWY.COM

Sribu Batu Songgo Langit Apabila kita mau menelisik lebih jauh lagi bahkan lebih dalam lagi tentang tempat-tempat wisata yang terdapat di wilayah DI Yogyakarta, mungkin kita akan tercengang. Betapa tidak, memang ada banyak sekali tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi, bahkan jumlahnya pun mungkin belum dapat dipastikan karena sejauh ini memang potensi wisata yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta semakin ditingkatkan sehingga semakin banyak bermunculan tempat wisata baru.
Salah satu potensi wisata alam di Bantul yang belum lama terekspos ialah Sribu Batu Songgo Langit ini. Walaupun termasuk salah satu tempat wisata yang dianggap baru dan masih belum banyak diketahui oleh wisatawan, tetapi keberadaan objek Sribu Batu Songgo Langit ini mampu menarik perhatian para wisatawan.
Daya tarik yang ada di Sribu Batu Songgo Langit
Dari namanya saja memang terdengar begitu unik, menurut penuturan warga setempat nama Sribu Batu Songgo Langit memiliki arti sebagai batu penyangga langit yang jumlahnya begitu banyak. Walaupun tempat wisata yang satu ini belum sepenuhnya selesai, dan jumlah batu-batu raksasa yang ada juga belum banyak tetapi justru keberadaan batu raksasa itulah yang menjadi daya tariknya.
Batu-batu raksasa tersebut keberadaannya dikelilingi oleh pohon-pohon pinus, sehingga keindahannya pun begitu menyatu dan terlihat unik. Tempat ini pun banyak dikunjungi oleh para wisatawan yang ingin melepas penat, yang ingin menikmati pemandangan alam atau bagi mereka yang ingin mengabadikan setiap momentnya dengan berfoto.
Tempat lokasi Sribu Batu Songgo Langit
Memang belum banyak yang mengetahui dimana lokasi tempat wisata Sribu Batu Songgo. Untuk itu, di sini akan diinformasikan mengenai keberadaan tempat ini, yaitu terdapat di wilayah Dusun Sukarame, Desa Magunan, Kecamatan Dlingo, Bantul DI Yogyakarta.
Rute perjalanan menuju tempat wisata Sribu Baru Songgo Langit
Jika keluar dari wilayah Puncak Becici, setelah mengunjungi Hutan Pinus Mangunan ataupun setelah melewati Hutan Pinus Mangunan jangan lupa mampir ke tempat wisata Sribu Batu Songgo Langit. Sebab, letaknya memang tidak jauh dari Hutan Pinus Manggunan. Untuk menuju objek Sribu Batu Songgo Langit, para wisatawan bisa melihat petunjuk arah yang terdapat di kiri jalan.
Biaya masuk ke objek wisata Sribu Batu Songgo Langit
Tidak ada biaya tiket masuk untuk sampai ke lokasi wisata ini, karena para wisatawan yang membawa kendaraan hanya cukup membayar parkir saja, yaitu Rp. 10.000,- untuk para wisatawan yang membawa mobil dan Rp. 3.000,- untuk para wisatawan yang membawa sepeda motor.
Sebagaimana yang sudah dijelaskan sebelumnya, tempat wisata Sribu Batu Songgo Langit ini memang baru dibuka namun sudah ditata sedemikian rupa dan sudah tersedia spot-spot menakjubkan untuk berfoto.
SF : Andika Prastyo

Kampung Edukasi Wisata Watu Lumbung | Kretek Bantul Yogyakarta

Berawal dari usaha Muhammad Boy Rifai yang ingin memberdayakan masyarakat sekitar, area hutan jati ini pun diubah menjadi salah satu kawasan wisata alternatif yang menyatu dengan alam.
Kampung Edukasi Watu Lumbung
Konstruksi-konstruksi dari bambu dan rumah-rumah sederhana berdinding kayu dibangun di antara pohon-pohon jati yang tumbuh tegak. Pohon-pohon jati yang tumbuh pun dimanfaatkan sebagai tiang-tiang penyangga konstruksi bambu. Di tempat inilah para pengunjung biasanya menghabiskan waktu menikmati keindahan pemandangan kawasan Parangtritis dari ketinggian.
Alamat Kampung Edukasi Watu Lumbung:
Parangtritis, Kec. Kretek, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta
Koordinat:-7.993174, 110.318354
Parkir motor
Rp 2.000
Parkir mobil
Rp 5.000
Buka setiap hari
Pk. 10.00-00.00
SF : tempatwisata.com

Ada Kabut Tipis Yang Siap Bahagiakan Kamu , Di Puncak Becici Dlingo Bantul

Puncak Becici terletak di kawasan Resort Pengelolaan Hutan (RPH), tepatnya di Pedukuhan Gunung Cilik, Dsa. Gunung Mutuk, Kec. Dlingo, Kab. Bantul, Yogyakarta. Letaknya tak terlalu jauh dari kebun buah Mangunan. Seperti Hutan Pinus Mangunan, di sini juga kamu bakal disuguhi banyak sekalli hutan pinus besar dan menjulang tinggi. Hawa di sini juga sejuk dan menyegarkan. Cocok deh buat kamu yang ingin mencari ketenangan. Jika cuaca sedang cerah, kamu bisa melihat pemandangan alam yang eksotis abis antara Gunung Merapi, Gunung Sindoro, persawahan dan perkampungan warga. Dan akan semakin eksotis jika kabut tipis mulai menggerayangi area Puncak Becici.
SF : @shofialiyana

Makam Syeh Bela-Belu ,Spot Wisata Religi Kabupaten Bantul | Dok. POWY.COM

Tujuan berikutnya saat itu adalah ke Makam Syekh Bela-Belu Parangtritis Bantul . Nama yang unik di telinga. Makamnya tidak jauh dari
Gumuk Pasir yang sebelumnya sempat kami kunjungi, dengan berbalik arah ke Timur hingga mentok di Jl Parangtritis, lalu belok kiri.
Setelah 600 m dari pertigaan, kami tiba di gapura Makam Syekh Bela-Belu. Tak ada parkir, sehingga kendaraan menepi di bahu jalan. Nama tokoh disebut di tulisan sebelumnya tentang Makam Panembahan Selohening, sebagai salah satu anak Raja Majapahit Brawijaya V.
Dikisahkan bahwa Syekh Bela-Belu dan Syekh Damiaking masuk agama Islam mengikuti jejak gurunya, yaitu Panembahan Selohening, yang telah masuk Islam terlebih dahulu setelah beliau kalah dalam berdebat dan beradu ilmu dengan Syekh Maulana Maghribi. Kisah lebih lanjut mengenai tokoh ini bisa dibaca di blog
Jalan Trabas.
Makam Syekh Bela-Belu Parangtritis yang berada persis di tepi sebelah kiri jalan, jika pengunjung datang dari arah Yogya. Dasar undakan menuju ke puncak perbukitan dimana makam berada terlihat di belakangnya. Kuncup bunga kuning dengan kelopak bunga hijau di puncak pilar gapura mungkin penanda bahwa yang empunya makam masih memiliki darah bangsawan.
Nama Damiaking yang terlihat pada gapura adalah adik Syekh Bela-Belu yang sama-sama menyingkir dari Majapahit. Tidak ada pos jaga atau petunjuk lain di sekitar gerbang masuk makam ini, sehingga kami pun langsung menapaki satu persatu undakan, tanpa mengetahui seberapa banyak jumlah undakan yang harus kami lalui.
Pemandangan pada sepotong undakan menuju Makam Syekh Bela-Belu Parangtritis yang ternyata lumayan panjang, tajam menanjak, dan berkelak-kelok. Seluruhnya ada 350 undakan dengan lima kelokan sebelum sampai di pintu gapura atas. Di kelok itu, dan di banyak titik di sepanjang perjalanan, pejalan berkesempatan melihat pemandangan lepas ke arah Laut Selatan.
Setelah menyingkir dari Majapahit menyusul meredupnya kekuasaan Majapahit dengan munculnya Kesultanan Demak, Syekh Bela-Belu yang nama aslinya Raden Dandhun itu menetap di perbukitan Parangritis ini. Sedangkan Raja Brawijaya V dan sejumlah pengikutnya menyepi di Gunung Kidul. Namun situsweb Tembi menyebutkan nama asli Syekh Bela-Belu adalah Raden Jaka Bandem.
Dari salah satu undakan menuju Makam Syekh Bela-Belu Parangtritis Bantul saya bisa melihat bangunan replika Ka’bah. Sebagian gunungan pasir terlihat di sebelah kanan, dengan latar pantai Laut Selatan. Pada titik lain saya bisa melihat area Pantai Parangkusumo. Silir angin serta pepohonan yang menaungi undakan, membuat perjalanan terasa tidak begitu berat.
Saya perkirakan panjangnya undakan ini tidak kurang dari 300 m. Tidak terlalu jauh, namun karena menanjak tinggi membuat saya harus beristirahat beberapa kali sambil menikmati panorama Laut Selatan yang indah. Kami sempat berpapasan dengan beberapa orang yang kotor pakaiannya memberi petunjuk bawah mereka tengah melakukan perbaikan bangunan situs.
Belakangan saya tahu bahwa salah satu dari mereka adalah kuncen. Lintasan jalannya agak mendatar beberapa puluh meter sebelum pintu gerbang atas , dan ada warung di sana. Di sebelah kiri ada beberapa makam, serta Arca Resi Agastya dengan kepala terpenggal, diapit dua arca dalam posisi satu lutut menempel dasar, dan satu lutut lagi menekuk ke atas.
Cungkup dimana Makam Syekh Bela-Belu dan makam Syekh Damiaking berada, dengan gerbang masuk atas terlihat di sebelah kirinya. Foto ini diambil dari depan pesanggrahan yang digunakan oleh para peziarah untuk beristirahat.Pintu kayu untuk masuk ke dalam makam dibiarkan terbuka meskipun kuncen tengah pergi ke bawah mengambil bahan material bangunan.
Tempat pedupaan dengan cerobong asap, serta kotak sedekah, tampak di kiri pintu masuk yang bercat dominan hijau dan kuning. Di atas pintu terdapat tulisan pada kayu yang berbunyi “Pasarean Syeh Belabelo Damiaking”, dan di bawahnya peringatan larangan tidur di tempat ini tanpa ijin. Kubur Syekh Bela-Belu terletak berdampingan dengan kubur Syekh Damiaking.
Sebuah arca Lembu Nandi sepanjang 80 cm dalam mendekam dengan kepala terpenggal tampak di samping pesanggrahan. Karena di bukit ini dulu Syekh Bela-Belu membuat patung yang diantaranya adalah patung punakawan dan patung banteng, maka bukit itu kemudian dikenal oleh penduduk sebagai Bukit Banteng atau Gunung Banteng.
Selama hidupnya beliau konon suka sekali makan nasi ayam liwet, yaitu nasi yang dimasak dengan santan kelapa dan diisi daging ayam. Karenanya peziarah yang doanya terkabul akan mengadakan syukuran dengan membuat caos dhahar (mempersembahkan makan) berupa nasi liwet ayam ini. Selain itu mereka juga biasanya menyumbang untuk dana perbaikan.
Area makam di puncak perbukitan ini cukup luas, dan terlihat relatif rapi. Saya sempat berbincang dengan kuncen, meski hanya sebentar. Namanya Ki Jumadi yang saat itu berusia 64 tahun. Ia mengatakan bahwa Makam Syekh Bela-Belu lazimnya ramai peziarah di setiap malam Jumat Kliwon dan Selasa Kliwon, namun jauh lebih ramai pada malam 1 Syuro